Perjalanan Sang Seniman Menuju Senayan

Ignatius Bagaskoro Katon lahir di Magelang, 14 Juni 1966. Sejak kecil darah seni sudah mengalir di dirinya. Ketika masih duduk di bangku SD, kakeknya meninggal dan ia menciptakan sebuah lagu untuk mengenang kebersamaan dengan sang kakek.

Kecintaannya terhadap seni didukung oleh ibunya. Katon mengenal musik dan menciptakan lagu secara autodidak. Ia belajar bermain gitar dengan kakaknya, Andre Manika.

Katon juga punya cara unik dalam menemukan nada. Ia suka bersenandung dan menghasilkan nada baru. Menurut Katon, cara itu melahirkan nada yang kaya dan tidak monoton. Setelah nada ditemukan, barulah ia menciptakan lirik. Tidak mengherankan, karya-karyanya yang romantis tidak selalu diikuti dengan nada yang mendayu-dayu.

Katon muda sempat bercita-cita menjadi diplomat, tetapi jalan hidup mengantarnya ke maskapai penerbangan. Ya, Katon ternyata pernah menjadi cabin crew di perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Namun, darah seni seolah terus membuncah, ia tidak bisa lagi membendungnya. Katon memutuskan untuk memilih seni sebagai jalan hidupnya.

Pada 1988, bersama dengan Lilo, Ari, dan Adi, Katon membentuk grup Kla Project. Namanya pun kian dikenal dan masuk ke deretan musisi papan atas Indonesia.

Katon Bagaskara tidak hanya berkiprah di dunia musik. Ia juga aktif di kegiatan sosial, seperti menjadi Duta Lingkungan Hidup, Duta Baca Nasional hingga Supporter Kehormatan WWF Indonesia.

Ia juga aktif terlibat dalam organisasi, antara lain, yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI), Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI), dan Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI). Merespons maraknya pembajakan kaset dan CD, pada 2002 Katon menggelar aksi damai yang diberi nama Aksi Cinta Putih di Jakarta, Makassar, dan Yogyakarta.

Ia menempelkan stiker bertuliskan Save Our Culture By Saving The Music atau Selamatkan Budaya Kita dengan Menyelamatkan Musik pada kaca mobil yang melintas di jalan. Aksi itu bertujuan mengingatkan kepada orang-orang dengan tidak membeli kaset atau CD bajakan sebenarnya ikut menyelamatkan budaya yang mulai terkikis oleh pembajakan dan ekspansi budaya asing.

Perjalanan yang tidak diragukan di dunia seni dan sosial, membuat sejumlah tawaran menjadi wakil rakyat pada beberapa tahun lalu bermunculan. Namun, Katon menolak dan bersikukuh tidak ingin menanggalkan status seniman menjadi politisi.

Waktu berubah dan orang juga bisa berubah, demikian pula Katon Bagaskara. Ia menerima pinangan PDI Perjuangan untuk maju sebagai calon anggota DPR RI daerah pemilihan DIY pada pemilihan umum 2019.

Bukan tanpa sebab, Katon mengiyakan. Ia melihat sosok figur presiden Joko Widodo yang berhasil memerintah Indonesia. Terlebih sang ibu juga mendukungnya.

“Ibu bilang kamu sebagai seniman memberi inspirasi dari hati, sudah saatnya memberi inspirasi bagi banyak orang lewat jalan sebagai wakil rakyat, tetapi jangan pernah lupa untuk selalu menggunakan hati,” ujar Katon menirukan ucapan sang ibu.

Ia memilih DIY sebagai dapil karena kedekatan dengan kota Yogyakarta. Nenek dan ibunya tinggal di Yogyakarta. Sejak kecil, setiap kali liburan, ia selalu berkunjung ke Yogyakarta. Bagi Katon, Yogyakarta sebagai meeting point atau titik berkumpul dengan sanak saudara, kerabat, dan orang-orang terdekatnya.

Katon Bagaskara juga menepis anggapan seniman buta politik. Mendeklarasikan diri menjadi seniman seumur hidup, bukan berarti vokalis Kla Project ini tidak peduli dengan dinamika kenegaraan.

“Wakil rakyat bukan profesi, tetapi tugas, jadi apa tidak boleh seniman jadi wakil rakyat?” ucapnya.

Menurutnya, seni identik dengan budaya dan budaya tidak bisa dianggap remeh. Selama ini orang beranggapan budaya sebatas kesenian, pementasan, atau pertunjukan.

Padahal, budaya masuk ke segala aspek kehidupan manusia. Minum kopi, misalnya, disajikan dengan cangkir, diseruput dalam keadaan panas.

“Unggah-ungguh atau tata krama itu juga bagian dari budaya,” ucap Katon.

Katon lantas bertanya, siapa yang pantas duduk di parlemen dan berbicara budaya? Jawabannya, seniman yang memiliki visi dan misi.

Visi dan misi yang ditawarkannya pun lebih praktis. Bukan metafor yang kebanyakan wacana.

Katon sudah merancang sejumlah rencana untuk mewakili suara rakyat dari daerah pilihannya. Ia bersedia menampung aspirasi rakyat DIY dengan sistem yang tidak biasa, santai, dan berjiwa muda.